Lewati ke konten
Iklan
Opini

Sitinur Ubaid, Dari Bidan Desa hingga Menggerakkan Perjuangan Melawan Stunting di Halmahera Timur

Redaksi •
Sitinur Ubaid, Dari Bidan Desa hingga Menggerakkan Perjuangan Melawan Stunting di Halmahera Timur

Di sinilah pengalaman Hj. Iti sebagai mantan bidan desa menjadi bagian penting dari narasi pengabdiannya. Ia pernah berada di lingkungan pelayanan kesehatan yang berhadapan langsung dengan keterbatasan. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang relevan untuk memahami bahwa keberhasilan program kesehatan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar instruksi.

Diperlukan kader yang aktif, komunikasi yang terbuka, koordinasi lintas sektor, dan kesediaan untuk mendatangi masyarakat. Sebab, keluarga yang tinggal jauh dari pusat kecamatan memiliki kebutuhan yang sama untuk memperoleh perhatian, meskipun akses menuju tempat mereka tidak selalu mudah.

Penanganan stunting juga tidak dapat dibebankan kepada PKK semata. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, keluarga, dan masyarakat harus bergerak bersama. Peran TP-PKK menjadi strategis dalam membangun kesadaran keluarga sekaligus menjembatani program agar lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ukuran keberhasilan pada akhirnya bukan sekadar jumlah sosialisasi atau kegiatan yang tercatat, melainkan perubahan yang dapat dirasakan: meningkatnya kesadaran keluarga terhadap gizi, terpantau dengan baiknya pertumbuhan anak, serta semakin mudahnya masyarakat mengakses pendampingan dan pelayanan yang diperlukan.

Melalui Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), bisa membantu bagi anak dan keluarga, agar bagi yang membutuhkan dapat terjangkau lebih banyak penerima. Dukungan itu dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga, terutama dalam pemenuhan gizi dan pendampingan.

Sitinur juga memiliki peran strategis untuk menggerakkan kader PKK di kecamatan dan desa. Edukasi mengenai makanan bergizi seimbang, pola pengasuhan, serta pemantauan pertumbuhan anak menjadi bagian penting dari upaya pencegahan stunting.

Genting merupakan gerakan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya. Program ini mendorong keterlibatan orang tua asuh untuk membantu keluarga yang berisiko mengalami stunting.

Dengan harapan gerakan tersebut tumbuh menjadi aksi bersama di Halmahera Timur. Dengan keterlibatan lebih banyak pihak, pemenuhan kebutuhan anak dapat menjadi tanggung jawab bersama, bukan semata-mata beban keluarga.
Dari pengalaman pribadi menuju pengabdian sosial.

Perjalanan dari bidan desa di daerah terpencil hingga menjadi Ketua TP-PKK memperlihatkan satu benang merah: pengabdian yang berangkat dari kedekatan dengan masyarakat.
Profesi bidan menempatkannya pada kebutuhan kesehatan ibu dan anak secara langsung.

Sementara itu, amanah di TP-PKK memperluas ruang pengabdian ke berbagai aspek kehidupan keluarga, mulai dari kesehatan, pendidikan, pengasuhan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Dua ruang pengabdian tersebut memiliki titik temu yang kuat. Keduanya menuntut kesabaran, kemampuan berkomunikasi, dan kepekaan terhadap persoalan yang dialami masyarakat. Keduanya juga mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu berlangsung cepat, tetapi membutuhkan pendampingan dan kerja yang terus-menerus.

Dalam pandangan orang-orang yang dekat dengannya, nilai kesederhanaan dan komunikasi menjadi karakter yang patut diperhatikan. Namun, karakter tersebut akan memperoleh makna yang lebih luas ketika diterjemahkan menjadi kerja organisasi yang terukur, program yang berkelanjutan, dan manfaat yang dapat dirasakan keluarga hingga ke pelosok desa.

Sebab, kepemimpinan dalam gerakan pemberdayaan bukan hanya tentang menjadi wajah sebuah organisasi. Lebih dari itu, ia merupakan tanggung jawab untuk menggerakkan banyak orang agar memiliki tujuan yang sama dan memastikan masyarakat tidak tertinggal karena keadaan geografis maupun keterbatasan akses.

Kado pengabdian untuk HKG PKK ke-52
Peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-52 menjadi momentum untuk merefleksikan kembali arti gerakan pemberdayaan keluarga. Bagi Halmahera Timur, momentum ini memiliki makna tersendiri ketika kabupaten tersebut dipercaya menjadi tuan rumah kegiatan HKG tingkat Provinsi Maluku Utara.

Kesempatan menjadi tuan rumah bukan hanya berkaitan dengan penyelenggaraan acara. Momentum ini juga dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan kerja kader, memperkuat koordinasi, dan menunjukkan bagaimana gerakan PKK berupaya menjawab tantangan keluarga di wilayah dengan kondisi geografis yang beragam.
Di balik kegiatan dan pertemuan resmi, ada kerja panjang para kader di desa-desa. Mereka berhadapan dengan keluarga, mendampingi kegiatan masyarakat, menyampaikan edukasi, dan menjadi penghubung antara kebutuhan warga dengan program pemberdayaan.

Peran Ketua TP-PKK menjadi penting untuk menjaga semangat tersebut, memperkuat kapasitas kader, serta mendorong agar program tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Terlebih dalam penanganan stunting, kesinambungan kerja menjadi kebutuhan utama karena kesehatan dan pertumbuhan anak tidak dapat menunggu sampai sebuah agenda peringatan selesai dilaksanakan.
Bagi Hj. Iti, perjalanan pengabdian dari pelayanan kesehatan di daerah terpencil menuju gerakan pemberdayaan keluarga merupakan bagian dari kisah yang layak dikenang. Bukan karena jabatan yang melekat, melainkan karena pengalaman yang mengajarkan arti keterbatasan dan pentingnya kehadiran bagi masyarakat.

Sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian dari kepengurusan TP-PKK, saya, M. Andi Haliun, memandang perjalanan Hj. Iti sebagai pengingat bahwa pengabdian memiliki banyak bentuk. Ada pengabdian yang terlihat di panggung kegiatan resmi, tetapi ada pula yang tumbuh dalam perjalanan panjang menuju desa, di tengah keterbatasan fasilitas, dan melalui upaya memahami kebutuhan keluarga dari dekat.

Pengalaman sebagai bidan desa memberikan konteks penting untuk membaca perjalanan tersebut, tanpa mengabaikan bahwa setiap program tetap harus diukur melalui manfaat nyata yang dirasakan masyarakat.

Tulisan ini saya persembahkan sebagai kado dalam peringatan Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Tahun 2026, dengan Kabupaten Halmahera Timur sebagai tuan rumah peringatan tingkat Provinsi Maluku Utara. Lebih dari sekadar ucapan selamat, tulisan ini merupakan penghargaan terhadap perjalanan pengabdian perempuan yang pernah bekerja di tengah keterbatasan dan kemudian memikul tanggung jawab pemberdayaan keluarga dalam lingkup yang lebih luas.

Pada akhirnya, ukuran pengabdian bukan semata-mata jabatan yang pernah disandang atau banyaknya kegiatan yang diselenggarakan. Ukurannya juga terletak pada seberapa jauh masyarakat merasa didengar, seberapa nyata keluarga memperoleh manfaat, dan seberapa kuat semangat pelayanan terus dijaga. Dari Maba hingga pelosok Halmahera Timur, perjalanan Hj. Iti mengingatkan kita bahwa pembangunan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar program: ia membutuhkan kepedulian, keberanian untuk hadir, dan kesediaan untuk terus bekerja bersama masyarakat.

Penghargaan paling bermakna bagi seorang penggerak PKK bukan hanya tepuk tangan dalam sebuah perayaan. Penghargaan itu hadir ketika keluarga semakin memahami pentingnya kesehatan, anak-anak memperoleh perhatian yang lebih baik, perempuan memiliki ruang untuk berkembang, dan masyarakat di desa terpencil merasa bahwa mereka tidak berjalan sendirian.
Di Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 Tahun 2026, kisah Hj. Iti menjadi pengingat bahwa pengabdian perempuan dapat tumbuh dari tempat yang sederhana, ditempa oleh keterbatasan, dan menemukan maknanya ketika kepentingan masyarakat tetap menjadi tujuan utama.
Sebab, pembangunan keluarga tidak hanya dimulai dari program besar.

Ia juga dimulai dari keberanian menembus jarak, kesediaan mendengar, dan ketulusan untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan. Akhir kata
Dari desa terpencil, pengabdian itu berlanjut. Dari keluarga, perubahan itu diharapkan tumbuh. Dan dari Halmahera Timur, semangat pemberdayaan keluarga menemukan ruang untuk terus bergerak. Salam Limabot Fayfiye

Berita Terkait

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *