Ternate – Musim kemarau 2026 terasa lebih panjang di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut diperparah fenomena El Nino yang turut meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan dan sejumlah wilayah lainnya.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat ribuan titik panas selama periode kemarau 2026. Kondisi itu membuat masyarakat di sejumlah daerah menantikan datangnya musim hujan yang diperkirakan mulai berlangsung secara bertahap.
Namun, hujan belum serta-merta turun merata di seluruh wilayah Indonesia.
Berdasarkan prediksi BMKG, sejumlah wilayah masih berpotensi mengalami curah hujan rendah pada Oktober hingga November 2026. Peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan diperkirakan berlangsung bertahap dengan waktu yang berbeda di setiap wilayah.
Dalam Buletin Informasi Iklim Agustus 2026, BMKG memprediksi curah hujan di Indonesia pada periode September-November 2026 umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah.
Pada Oktober 2026, BMKG membagi prediksi curah hujan di Indonesia ke dalam empat kategori.
Sebanyak 49,92 persen wilayah diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah, 45,08 persen kategori menengah, 4,68 persen kategori tinggi, dan 0,33 persen kategori sangat tinggi.
Curah hujan kategori rendah berada pada kisaran 0-100 milimeter per bulan. Sementara itu, kategori menengah berada pada kisaran 100-300 milimeter per bulan.
Wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah pada Oktober 2026 tersebar di sejumlah wilayah Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Di Kalimantan Timur, misalnya, sebagian besar kabupaten dan kota diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah.
Wilayah tersebut meliputi Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Paser, Kutai Timur, Penajam Paser Utara, Balikpapan, Samarinda, dan Bontang.
Sementara itu, Mahakam Ulu dan Berau diprediksi mengalami curah hujan kategori menengah.
Memasuki November 2026, curah hujan diprediksi mulai meningkat di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan 70,05 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah. Sebanyak 16,97 persen wilayah berada dalam kategori rendah, 12,48 persen kategori tinggi, dan 0,50 persen kategori sangat tinggi.
Meski demikian, sejumlah wilayah masih berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter per bulan.
Wilayah tersebut terutama mencakup sebagian Lampung, Jawa, Madura, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua Selatan.
Dengan melihat perkembangan curah hujan tersebut, November 2026 diperkirakan menjadi periode puncak musim hujan di Indonesia.
Namun, awal musim hujan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah. Waktu masuknya musim hujan dapat berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan informasi BMKG berdasarkan zona musim (ZOM) di wilayah masing-masing untuk mengetahui kapan musim hujan diperkirakan mulai berlangsung secara lebih spesifik.
Dengan demikian, meski sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi mulai mengalami peningkatan curah hujan pada November, masyarakat di sejumlah daerah masih perlu mewaspadai kondisi kering hingga periode tersebut.



