abarce.com – Hiu berjalan memiliki nama ilmiah Hemiscyllium halmahera, adalah salah satu spesies hiu paling unik yang baru-baru ini diketahui keberadaannya di perairan Indonesia. Spesies ini pertama kali dilaporkan ketika dua spesimennya berhasil ditemukan di perairan dekat Pulau Halmahera, wilayah Maluku Utara. Penemuannya menjadi kabar gembira sekaligus bukti nyata betapa kayanya kekayaan hayati yang tersimpan di perairan Indonesia bagian timur.
Secara garis besar, hiu ini memiliki kemiripan bentuk dengan kerabat dekatnya, yaitu Hemiscyllium galei yang ditemukan di wilayah Teluk Cendrawasih, Papua Barat. Namun, hiu berjalan asal Halmahera ini memiliki ciri khas tersendiri yang membedakannya dari jenis lainnya. Keunikan yang paling menonjol bukan hanya pada bentuk tubuhnya, melainkan pada cara bergeraknya yang sungguh luar biasa dan jarang dimiliki oleh jenis hiu pada umumnya.
Keistimewaan utama yang membuat hiu ini begitu menarik perhatian adalah kemampuannya yang seolah-olah berjalan di atas dasar laut. Hiu ini menggunakan sepasang sirip dada dan sepasang sirip perutnya layaknya kaki, yang digerakkan bergantian untuk merayap di atas pasir maupun sela-sela terumbu karang. Gerakan ini membuatnya tampak seolah sedang berjalan perlahan, menjadikannya penjelajah dasar laut yang luwes dan memukau.
Dari segi ukuran, hiu berjalan ini tergolong relatif kecil. Spesimen yang pernah tertangkap sejauh ini memiliki panjang tubuh sekitar 70 sentimeter saja. Meski bertubuh mungil, ia memiliki keanggunan tersendiri saat menyusuri dasar laut. Ukuran tubuh yang tidak terlalu besar ini memudahkannya bergerak masuk ke celah-celah sempit di antara terumbu karang untuk mencari makan atau sekadar berlindung dari gangguan.
Warna kulit hiu berjalan didominasi oleh warna cokelat yang serasi dengan lingkungan dasarnya, sehingga ia mampu menyamar dengan sangat baik. Seluruh permukaan tubuhnya dihiasi oleh bintik-bintik beraturan berbentuk poligon berwarna gelap yang tersebar merata. Di sela-sela bintik gelap tersebut, terdapat pula bintik berwarna putih namun jumlahnya sangat sedikit, biasanya kurang dari sepuluh buah, yang menjadi penanda khas coraknya.
Pada bagian kepala terdapat ciri pembeda yang sangat mencolok. Di daerah moncong terlihat bintik hitam berukuran cukup besar, sementara di bagian bawah kepala terdapat sepasang tanda berwarna gelap yang khas. Tak ketinggalan, pada bagian punggungnya terdapat pola berwarna gelap yang membentuk huruf “U”, seolah-olah alam telah memberikan tanda khusus agar spesies ini mudah dikenali oleh siapa saja yang menjumpainya.
Menuju bagian belakang tubuh, terlihat pula tanda-tanda melintang berwarna gelap yang berjumlah tujuh hingga delapan buah, membentang dari daerah perut hingga pangkal sirip ekor. Sementara itu, pada permukaan atas kepalanya, biasanya terdapat sekitar dua puluh lima bintik hitam yang tersusun rapi. Keseluruhan corak ini membentuk pola yang sangat indah sekaligus berfungsi sebagai penyamaran yang sangat efektif di lingkungan hidupnya.
Hiu berjalan pertama kali ditemukan di perairan Halmahera, salah satu pulau terbesar di Kepulauan Maluku yang letaknya berada di sebelah barat wilayah Papua Nugini. Ia hidup di perairan tropis yang hangat, jernih, dan kaya akan terumbu karang. Kawasan perairan Halmahera yang beragam bentuk dasarnya menjadi rumah yang sangat ideal bagi hiu ini untuk berkembang biak dan mencari makan dengan leluasa.
Sebagai hewan yang aktif bergerak pada malam hari, hiu berjalan memanfaatkan kemampuan berjalannya untuk menyusuri dasar laut demi mencari makanan. Makanan utamanya berupa ikan-ikan kecil yang bersembunyi di celah karang, hewan berkulit keras seperti kepiting dan udang, serta berbagai jenis hewan bertubuh lunak. Dengan kemampuan bergeraknya yang unik, ia mampu menjangkau tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh jenis ikan atau hiu lainnya.
Penemuan spesies ini dilakukan oleh tim peneliti yang dipimpin oleh seorang ilmuwan bernama Dr. Gerald Allen. Penelitian tersebut dilakukan di bawah naungan organisasi internasional Conservation International. Hasil penemuannya pun telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional, sehingga keberadaan hiu berjalan ini kini dikenal luas oleh dunia ilmu pengetahuan.
Nama ilmiah yang diberikan padanya, halmahera, diambil langsung dari nama pulau tempat ia pertama kali ditemukan, yaitu Pulau Halmahera. Penamaan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa kekayaan alam yang luar biasa ini berasal dari perairan Halmahera, Maluku Utara. Diharapkan dengan adanya penemuan ini, kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian laut semakin meningkat, agar hiu dan ekosistem laut lainnya tetap terjaga dengan baik.
Penemuan hiu berjalan ini menjadi bukti bahwa masih banyak keajaiban alam yang tersembunyi di perairan Indonesia, khususnya di wilayah Maluku Utara. Semoga keberadaannya terus terjaga di tengah kekayaan laut yang luar biasa ini, dan generasi mendatang masih dapat menyaksikan keunikan hiu berjalan yang menyusuri dasar laut Halmahera dengan penuh keanggunan.

